Senin, 02 Mei 2011

Cerita Sederhana 05 (Tentang kelabu)

Kelabu ... 
Sejenak pikiranku berlabuh tentang maknanya.
Makna hitam atau putih yang siap mendampinginya.
Tidak ! Ternyata memang bukan keduanya.

Yaa ... malam di Buitenzorg, udara tetap dingin di luar sana.
Alunan musik pembakar semangat kembali kuputar.
Tentang Mimpi. Tentang Angan. Tentang Semangat. Tentang Perjuangan. Tentang Pergolakan. Tentang apapun itu yang membuat aku bisa merasakan kembali makna kebahagiaan. 

Pernahkah berpikir bahwa kau mampu hidup di padang gurun tandus tanpa setitik pun air di hadapanmu?
Pernahkah berpikir bahwa kau mampu bertahan tegak di tepi jurang dengan ribuan angin menerpa?

Mungkin kau akan mati terkubur di padang gurun tandus itu
Mungkin pula kau akan terjatuh dari tepi jurang itu

Lantas, apa yang dapat kau lakukan setelahnya?

Tidak! Kau sama sekali tidak boleh menyerah. 
Ini hidupmu! Ini nyawamu! Kau bebas menyelamatkannya. Bahkan kau bebas merenggut kembali dari segala yang merenggutnya darimu.

Ya ... karena semua penentuan ada jauh di dalam hatimu.
Kau ingin hidup atau sekedar pasrah?

Jika AKU, insya allah aku ingin tetap hidup.
Karena aku memiliki DIA, memiliki mereka :)

Cerita Sederhana 04 (Tentang kebahagiaan)


Hujan masih terus mengguyur kota Buitenzorg tercinta. Kota yang hampir setiap hari kelabu. Mengantarkan titik-titik hujan dengan segala romantismenya. Merata ke seluruh permukaan tanah, atau sekedar singgah sementara di pucuk dedaunan hijau dan bunga-bunga yang penuh warna.
Oh, betapa hidup begitu indah. Betapa hidup seharusnya bahagia. 
Hari itu akan terus berlalu. Maka, ketika hari ini belum berlalu seutuhnya, biarkanlah peluhku terus mengucur deras. Tak peduli rasa lelah, tak peduli rasa sakit, ataupun tak peduli rasa yang membuatku tak lagi bahagia.
Karena aku selalu ingin melalui hari dengan sejuta pesona, dengan sejuta cerita. Tentu saja cerita sederhana yang memiliki makna luar biasa. 
Aku senang! Aku bahagia! Dan aku terus belajar! Tentang hidup. Tentang menjadi dewasa. Tentang menjadi bijaksana. Dan tentang pilihan-pilihan yang dapat membuatku bahagia.

Begitulah ... aku menutup cerita. Selalu ada makna yang aku dapat.

Alhamdulillah ...
"Maka nkmat Tuhan kamu mana lagikah yang kamu dustakan?"

Untuk ayah dan ibu di rumah :
Gadis bungsu kecil ini ingin memberikan kalian sebuah persembahan dan tentu saja ingin membuat kalian bangga karena telah membesarkan aku. Terima kasih yg tak terkira :)

Buitenzorg, 30 April 2011

Selasa, 05 April 2011

TIGA JIWA "Save My Soul" (session 2)

Banyu :
Ada yang salahkah pada diri ini?
Kosong itu tiba-tiba hilang. Lenyap. Musnah.
Sebuah titik ... entah titik apa.
Aku masih tak dapat mengerti.
Lalu, kutatap bintang di angkasa malam saat ini juga.
Masih tetap muram.
Lantas, apa ini?
Tiba-tiba nuraniku tumbuh.
Membentuk warna-warni pelangi, hingga akhirnya relung dalam hatiku tak lagi kosong.

Kirana :
Tatapan kosong. Seolah tak bernyawa.
Dingin. Melebihi bongkahan es yang pernah tersentuh oleh ujung jariku.
Tiba-tiba, aku merasa tatapan itu justru meronakan hatiku.
Menghilangkan kelabu yang selama ini terpenjara sepi jauh di lubuk hatiku.
Ahhh ... betapa aku tak pernah merasakan sebelumnya perasaan lembut ini.
Mungkinkah Buitenzorg memang berhasil membuat hatiku porak poranda?
Porak poranda bukan karena semakin kelabu, tapi justru merona sejak senja baru itu berhasil aku temukan.
Dan tentu saja, senyum di bibirku tak henti-hentinya berkulum.

Maessa :
Sebuah ikatan. Menjelmaku menjadi sosok yang tertarik-tarik.
Terombang-ambing.
Semula, hati ini gelap! Sangat gulita!
Namun, senyum mengkulum itu mampu menarik-narik perasaanku menjadi baru.
Perlahan, tirai dendamku sedikit mereda.
Amarahku pun tak lagi menghantui.
Oh, apa ini?
Benarkah jiwaku yang dulu mampu kembali?
Atau semua ini hanya sekedar mampu menjadi fatamorgana saja?

Cerita Sederhana 03

Seluas jagat raya memandang. Membentang luas hingga ke angkasa di atas sana. Membiru dengan sedikit polesan putih yang nampak hangat menyelimuti. Tak jauh, deretan panjang menghijau juga tertata rapi. Memadukannya dengan biru yang sebelumnya tampak. 
Oh ... sore yang membuatku jatuh hati. Ya, tentu saja jatuh hati pada yang menciptakan fatamorgana ini. Betapa semesta alam yang begitu damai, sejuk, dan membutakan mataku pada hal-hal yang sebelumnya aku pikirkan.
Beginilah seharusnya perasaan. Tenang seolah tanpa apapun. Namun, bukan berarti aku melepaskan semua tanggung jawab hidup. Ini hanyalah pelarian sementara tentang hidup yang seharusnya aku syukuri berkali-kali.
Maka ... ketika langit mulai memerah, itu berarti senja akan menyapa siapa pun yang telah berpeluh hari ini. Betapa nikmat merasakan peluh yang berkucur dan sambutan senja memerah ikut menutupi hari ini dengan romantisme fatamorgananya.
Aku menyukainya. Ya, benar-benar tak ingin berkeluh kesah jadinya. 
Karena fatamorgana ini mampu menghapuskan apapun.

Jiwa berlelah, berpeluh, maka nikmat Tuhan mana lagikah yang kamu dustakan? :)

Buitenzorg, 4 April 2011 

Kamis, 24 Maret 2011

Cerita sederhana 02

Malam. Hening. Sayup-sayup hanya suara jangkrik yang mampu berirama. Menemani aku dalam keasyikan bercengkrama dengan kata-kata. 
Entah mengapa mata ini sulit terpejam. Pikiranku masih jauh membayangkan betapa aku bukanlah apa-apa tanpa rezeki dan anugerah dari-Nya. Betapa aku hanya makhluk yang bernyawa jika saja tanpa cinta dari-Nya. Betapa aku hanya penikmat dunia jika saja aku tak mengenal-Nya. Oh, sungguh itu tidak benar-benar kuinginkan.

Sedikit cerita tentang sore hari ini. Masih terbayang cakrawala luar biasa pada langit menjelang sore di Kota Buitenzorg. Pagi yang nampak abu-abu dan ketika sore sangat mendecak kagum sang pemilik jiwa di dalam tubuhku. Betapa fatamorgana yang begitu indah. Membentang luas diselimuti kabut kelabu. Dan tentu saja, hiasan burung-burung yang asyik terbang kesana kemari semakin menyempurnakan angkasa sore hari ini. 

Belum lagi, ketika aku jalan menyusuri jalan lurus hingga ke ujung depan, nampak sebuah gunung menjulang berwarna kelabu. Sedikit dihiasi siluet putih yang mempercantik bentangan alam Kota Buitenzorg.

Sungguh, seandainya ada warna-warni pelangi yang juga ikut menghiasinya, maka fatamorgana itu akan semakin sempurna. Mungkin lain kali. Karena sang pelangi sedang menunggu hujan di tengah terik mentari. :)

TIGA JIWA "Save My Soul" (session 1)

Banyu :
Ini mungkin sebuah takdir, dan mungkin saja aku memang diharuskan menerima takdir ini tanpa perlu melawannya. Begitulah, aku tak habis pikir tentang apa saja yang bisa aku perbuat untuk orang lain. Bukan! Ternyata bukan itu yang seharusnya aku pikirkan. Tapi mengapa aku justru melakukan ini?
Hatiku begitu dingin, mengeras, bahkan sudah menjadi karang yang sulit dihancurkan. Walaupun bisa dihancurkan dengan tetesan air, namun tetap saja tidak cukup hanya sebentar. Butuh waktu yang lama. Begitulah kira-kira penggambaran isi hatiku. Terlalu gelap! Terlalu tak peduli! Dan terlanjur sadis!
Omong kosong dengan kasih sayang. Omong kosong pula tentang cinta. Semua itu akan lenyap jika setitik saja kebencian menyelimuti. Sebenarnya aku tidak benci. Hanya saja aku terlanjur memperoleh kehidupan yang penuh dengan kebencian. Sekali lagi bukan aku yang benci. Tetapi orang-orang yang bersama akulah yang diliputi banyak kebencian.
Dan aku?
Hanya sekedar menerima apa yang mereka benci. Menjadikannya lenyap hingga kebencian itu pun hilang dengan sendiri. Namun, ternyata kebencian itu tidak hanya satu.
Maka ... aku pun melenyapkan ribuan kebencian. Hingga aku pun lelah. Hingga penyesalan di dalam diriku pun tak lagi ada.

Maessa:
Entah apa yang dapat kuperbuat untuk tidak memenjarakan dendam ini. Jiwaku seharusnya bukan seperti ini. Ya, aku merasa memang kehilangan seluruh jiwaku yang sebenarnya. Dan itulah ... karena dendam ini terlalu sulit aku lenyapkan.
Betapa aku telah banyak mengalami perubahan jiwa. Aku seperti orang pesakitan. Setiap detik yang kulalui, hanya sebuah amarah dan dendam yang mampu menghidupkan kembali jiwaku. Aku hampir tak mengenal sosokku. Bahkan aku merasa bahwa jiwaku bukan lagi milikku. Ia hilang begitu saja. Ia lenyap entah kemana. Hingga jiwa lain pun mengisi relung-relung di tubuhku yang kosong.
Aku selayaknya mayat hidup tanpa cinta dan kasih sayang. Hidup hanya untuk menumbuhkan dendam dan amarah. Ya ... kenyataannya, setiap detik yang kulalui hanya untuk memendam amarah dan dendam hingga suatu saat akan berhasil aku luapkan. Tentu saja, entah pada siapa akan aku luapkan dendam dan amarah ini. Yang jelas, aku tidak main-main.
Aku hanya mampu hidup dengan satu alasan, yaitu dendam! Ya, itu saja! Tak ada yang lain.
Bahkan aku rela menghabiskan darah di sekujur tubuhku hanya untuk membalas dendam.

Kirana :
Tak habis pikir dengan kelelahanku selama ini. Aku tumbuh menjadi seorang gadis berhati kelabu. Kelabu bukanlah putih bersih. Kelabu juga bukanlah hitam pekat. Namun, kelabu ialah perpaduan antara keduanya. Bisa terbayangkan, hatiku pun penuh kekalutan. Namun, tetap saja aku memang setegar karang di lautan.
Belum ada gemuruh air yang mampu meluluhlantahkan ketegaran hatiku. Walau kalut, aku selalu yakin bahwa aku kuat. Inilah yang menjadi alasan mengapa aku hampir tak pernah menitikkan airmata sekalipun. Bisa kuingat, titik airmata terakhir yang mengalir di kedua pipiku saat ibuku meninggal 10 tahun silam. Setelahnya, aku sama sekali tidak pernah menitikkan airmata.
Itulah mengapa kubilang bahwa aku begitu tegar.
Sayangnya, ketegaran hatiku tidak akan selamanya menjadi tidak putus asa. Begitulah, karena semakin aku memaknai hariku selanjutnya, aku semakin kacau. Bukan karena aku mulai lemah, tetapi karena kekalutan yang aku alami berusaha menggoyahkan karang yang tegar di hatiku.
Sudahlah, aku masih belum mau menyerah.
Ini tentang hidup. Ini tentang menjadi bijaksana.
Maka, aku hanya sanggup menegakkan karang itu dan berharap akan tetap kokoh walaupun besarnya air mulai membasahi sekujur tubuhku.

Rabu, 23 Maret 2011

Cerita sederhana 01

Pagi buta. Baru saja aku melewati suatu malam yg hampa.
Ya, tentu saja hampa karena tanpa siapa pun. Bahkan suara binatang2 kecil pun tak mampu aku dengar.
Kali ini, ketika hari sudah berganti, aku masih saja menemui pagi tanpa siapa-siapa.
Apa sesungguhnya ini? Aku tak betah. Aku seperti hilang arah.

Sejenak kupandangi sebuah buku harian. Lapuk, usang, dan pudar. Hanya itu yg nampak jelas di kedua mataku.
Belum satu menit berlalu dengan sempurna, aku sudah terhanyut dengan syair-syair di dalam buku harian itu.
Lembar demi lembar kulalui masih dengan perasaan hampa. Belum menemukan sesuatu yang nampaknya dpt membuat hatiku sedikit merona.

Akhhh ... baru saja aku berhasil mengatupkan bibirku, hati ini tiba2 merona. Sangat merona. Hingga aku pun malu.

"Buitennzorg, 5 Desember 2010 ...
Selamat bertemu hari lahirmu kembali di tahun ini. Kehampaan yg kau rasakan sebenarnya hanyalah asa yg selalu menggelayuti pikiranmu. Maka, biarkan ia mengalir. Mengikuti arus harimu yg seharusnya kau lalui dengan sederhana. Pikirkanlah, betapa kau merugi membiarkan kehampaan itu terus terpelihara bahkan kau bukan melepaskannya, tapi justru memenjarakannya. Sekali lagi, lalui harimu dengan sederhana. Karena kau memang tak sendiri."


Sebuah senyum melengkung sempurna tepat di bibirku. Dan mentari pagi mulai mencerahkan dunia yang selama ini kuanggap hampa. :)
Betapa hari itu akan dapat kulalui dengan indah ketika aku merasa telah sederhana melewatinya.